Teguh (?)
Tubuh mungil itu bergetar hebat, entah karena udara yang menusuk hingga persendian atau perut yg sudah sejak beberapa hari lalu tak terisi. Rasanya, baru kemarin aku bersandar pada kabut yg terlambat surut, disudut bentala "menyala". Oleh riuh gempita bahagia. wajah-wajah yang tak pernah alpha dipresensi oleh nestapa, peluh yang menyelinap diantara runtuh, luka yang disimpul oleh harap dan doa. Berganti gema takbir penuh bahagia. - Hingga, kawanan monyet itu berkhianat untuk yg kesekian kali. Wajah-wajah itu kembali ditutup sendu, tangis pilu menyentak kalbu. Ayah yg tiada kini dilengkapi dengan kepergian ibu dan saudari. - Teguh (?) Kuseksamai raut wajahnya kesekian kali, kecup singkat diberi kepada saudarinya yg sudah tak lagi disisi. Ia seka air mata sambil sesekali mengeratkan Al-Qur'an yang terdekap didada. - Sayup dan kuyup wajahmu kususuri, ada kesepian yang matang dimasak rindu. Pilu. Tapi selalu ada bara yg tak pernah padam. Keteguhan (?)