(Agar tidak) Hilang arah
Pada cermin yang terpampang, terlihat sosok dengan kondisi yang tak karuan; baju yang berantakan (ntah sudah beraroma apa), mata yang lelah karena beberapa hari ini (harus) terjaga, tubuh yang semakin kurus karena harus menyusui 2 balita.
Melihat pantulannya dicermin membuatnya tersenyum dan mengingat beberapa hari lalu ketika ia melihat banyak postingan tentang pasangan muda bertebaran disosial media dengan pose bermesra, atau postingan keluarga yang (selalu) bahagia di feed Instagram sang bunda. Ia tersenyum dengan senyum penuh makna, se-makna ia menjalani Ramadhan tahun ini yang tak biasa. Ia tersenyum dengan senyum penuh makna, se-makna pemaknaan peran wanita yang setahun terakhir ini ia dapatkan dari lembaga tempat ia mendedikasikan diri dalam memperbaiki generasi. Ia tersenyum dengan senyum penuh makna, sehingga segala peluh dapat sirna dengan dzikir padaNya.
Lalu ia beranjak dari tempatnya berdiri, membuka telpon pintar yang sejak tadi tak tersentuh dan tak juga mengirimkan sinyal ada yang menghubungi, membuka kembali tulisan yang sempat ia tulis beberapa bulan lalu, sekedar mengingatkan kembali bahwa pada diri wanita ada lelah yang kadang terlihat lumrah; ada peluh yang menjadi derap pada tapak kesunyian.
Membuka kembali untuk sekedar mengingatkan; Bukan pada dunia dan sosial media kita menampilkan kecakapan, bukan juga pada itu kita "bernilai". Membuka kembali untuk sekedar mengingatkan; Ada banyak sosok wanita-wanita mulia yang pantas "dibersamai" dalam menapaki peran terbesar yang Al-Qur'an sampaikan, agar tidak hilang arah.
Perempuan dan tapak kesunyian
-
Sederet kalimat yang kini menjadi tabu, ditengah riuhnya lalu lintas sosial media.
Hari ini, label menginspirasi dan dedikasi tinggi sungguh sangat lekat kepada mereka yang diundang kesana-kemari; sehingga tak sedikit muslimah yang mendengar riuhnya menjadi berkaca lalu berkata "apalah aku ini"
Padahal, sungguh senyap peran terbesar perempuan Allah lukiskan. Hitunglah, berapa shahabiyyah yang nama dan biografinya masyhur dan lekat diingatan? Hanya berbilang puluhan, namun apakah yang tak tercatat menjadi tak mulia?
Adakah yang mengenal sosok istri dari sahabat mulia handzolah? Wanita yang seperti apa yang rela ditinggalkan suami tercinta dimalam pertama? Dan lebih sendunya lagi, terkabar syahid setelahnya.
Adakah nama Hannah tercatat dzohir dalam Al-Qur'an? Sedangkan ia adalah istri laki² mulia, bunda dari wanita penghulu syurga.
Perempuan dan tapak kesunyian.
Adalah isyarat yang Allah sampaikan dalam Qs al-ahzab:33 bahwa kau tak selalu perlu keriuhan dunia untuk menjadi mulia karena karya terbesarmu ada pada suami dan anak²mu.
Adalah isyarat bahwa jariyah tak melulu berpayah pada lingkar luarmu, jika kau mampu maksimal pada peran intimu maka cukuplah hadis Rasulullah menjadi pelipur payah "masuklah dari pintu surga manapun".
----
Diakhir kalimat, lagi-lagi ia tersenyum; ada ide yang melintas saat membaca kembali tulisannya sendiri. Ide agar wanita-wanita diluar sana mampu memaknai peran terbesar yang Al-Qur'an sampaikan; mengambilnya sebagai pelajaran; lalu melakukannya sebagai amal harian.
"Bukankah ini Syahrul Quran?" Gumamnya dalam hati
"Ah iya! Bukankah akan lebih bermakna jika Ramadhan yang terlalui tak sekedar khatam berapa kali? Bukankah akan lebih bermakna jika kita mampu menjadikannya hudalinnas?" Lagi-lagi ia bertanya pada dirinya sendiri
-
Ummu Sa'id
1 Mei 2020
MasyaAllah tabarakallah 🤧
ReplyDeleteWa fiik barakallahu mbak.. hakikatnya ini adalah cermin untuk diri sendiri :")
Delete