"Menyalakan Badai Pembebasan, Membongkar Topeng Kedzaliman; THUFAAN AL-AQSA" (Book Review)
Inilah Jihad, Hidup mulia atau syahid!!
Satu kalimat; bisa kau ucap dalam satu tarikan nafas.
Satu kalimat; kau dapat catat sebagai "kata-kata indah", motivasi atau lainnya.
Satu kalimat; kau dengar gaungnya diantara lirik nasyid-nasyid perjuangan.
Kebanyakan dari kita memilih tak peduli, "apakah kita rugi?"
Kebanyakan dari kita memilih abai, "ah.. sudah biasa!"
Hingga, peristiwa itu hadir.
Badainya memporak-porandakan stigma dunia, menghentak kesadaran muslim yang ditidurkan.
THUFAAN AL-AQSA
Bang Amar Ar-Risallah menulis sebuah harapan dikata 'sambutan'
"Aku ingin, buku ini menjadi tanda bahwa kita saling mengenal, kita saling berjanji: Untuk berjumpa di Masjid Al-Aqsa"
Bahasanya yang ringan dan nyastra tak sekedar membuat kita mengetahui informasi tapi juga mengaduk rasa.
Beliau memulainya dari keresahan seorang pemuda "penjual bubur". Pemuda yang memulai jihadnya bukan dari rapat-rapat besar, melainkan langkah yg terlihat kecil namun mengguncang entitas zionis puluhan tahun kemudian.
Sang pemuda mulai membuka pengajian untuk anak-anak disiang hari. Lalu pada malam harinya, ia ajarkan orang dewasa membaca dan menulis.
Namun, disela-sela pengajarannya itulah, "revolusi" menjadi spasi diantara kalimatnya.
Cerita terus bergulir, jihad tak lagi hanya perbincangan tapi masuk ketahap perlawanan, karena mereka sudah sangat keterlaluan.
Buku ini pun mengisahkan tentang kebodohan dan kebohongan para zionis. Kutukan dekade kedelapan, sapi merah yang meresahkan sampai detik-detik pertempuran.
Bacalah! Kau akan merasakan heroisme para mujahid, kau akan disadarkan bahwa perlawanan itu butuh persiapan matang; bukan gerak sporadis tanpa tujuan.
Bacalah! Kau akan menyaksikan "beginilah fiqih jihad itu". Kisah tentang sebuah pisang selayak kesturi yg aromanya merebak kepenjuru negeri-negeri.
Bacalah! Kau akan temui hal-hal yang tak banyak diceritakan. Tentang penduduk yang bungkam karena menjaga kerahasiaan strategi pejuang. Tentang semangat yang terlontar untuk para pejuang, ditengah perut yang melilit kelaparan.
Bacalah! Hatimu akan melembut karna seolah mendengar dengan telingamu sendiri bagaimana para medis mengorbankan makanannya untuk para pengungsi, sedangkan mereka basahi tenggorokan mereka dengan cairan infus didepan mata. Sedangkan mereka harus ada digarda terdepan penyelamatan.
Sendumu akan berteman dengan pilu juga harap dan malu.
Ia akan menyatu dengan visual yang menurutku mampu membuat kita membayangkan dengan nyata, tentang mereka dan perjuangannya.
Bacalah! Lalu ceritakan dan tanamkan minimal pada buah hatimu.
"Nak, inilah Al-Quds! Jadilah salah satu orang yang berada dibarisan pembebasnya"
”Nak, inilah Al-Quds! Tanah yang kesuciannya telah ditebus oleh simbahan darah para syuhada!"
Comments
Post a Comment