Rizki yang tertakar tak perlu dirisaukan (#UntukmuIbu)
Di tengah kondisi ekonomi yang terasa semakin menantang, tidak sedikit orang yang mulai mengucapkan, “di situasi seperti ini…” lalu memandang kehamilan sebagai sesuatu yang mengkhawatirkan. Pikiran tentang biaya, kebutuhan bayi, hingga masa depan seringkali datang bersamaan, membuat hati ibu hamil menjadi lebih sensitif dan mudah cemas. Perasaan ini sangat manusiawi, karena seorang ibu sedang memikirkan bukan hanya dirinya, tetapi juga kehidupan baru yang ia kandung.
Namun di balik semua kekhawatiran itu, ada satu prinsip besar dalam Islam yang tidak boleh terlupakan: Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya. Jaminan ini bukan sekadar janji, tetapi kepastian dari Dzat yang menciptakan kehidupan itu sendiri. Bahkan, seorang anak yang belum lahir pun telah ditetapkan rezekinya jauh sebelum ia hadir ke dunia.
Kehamilan, dalam kacamata iman, bukanlah datangnya beban baru semata melainkan juga hadirnya pintu-pintu rezeki yang mungkin belum pernah kita bayangkan sebelumnya. Banyak orang tua yang merasakan bahwa setelah hadirnya anak, justru Allah membukakan jalan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka. Hal ini sejalan dengan firman Allah yang melarang membunuh anak karena takut miskin, karena Allah-lah yang memberi rezeki kepada mereka dan juga kepada orang tuanya.
Di sinilah pentingnya membangun kembali cara pandang. Ketika kehamilan dilihat hanya dari sisi perhitungan dunia, maka yang muncul adalah angka dan kekhawatiran. Hanya saja saat ia dilihat dengan iman, maka yang tampak adalah janji, harapan, dan pertolongan Allah. Bukan berarti Islam mengajarkan untuk mengabaikan ikhtiar—justru usaha tetap diperlukan. Namun usaha itu berjalan berdampingan dengan tawakal, bukan digantikan oleh rasa takut.
Seorang ibu hamil memiliki kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah. Ia sedang menjalani fase kehidupan yang penuh perjuangan, sekaligus penuh keberkahan. Setiap rasa lelahnya bernilai pahala, setiap doanya lebih dekat dengan pengabulan, dan setiap ketenangannya menjadi kekuatan bagi janin yang ia kandung. Maka menjaga hati agar tetap tenang dan penuh harap bukan hanya bermanfaat untuk dirinya, tetapi juga untuk kehidupan yang sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Dalam kondisi seperti sekarang bisa jadi kekhawatiran akan tetap datang sesekali tapi ia tidak perlu dibiarkan menetap. Setiap kali rasa cemas muncul, ingatlah bahwa Allah tidak pernah lalai terhadap hamba-Nya.
Rezeki tidak selalu datang dalam bentuk yang kita rencanakan, tetapi selalu datang dalam bentuk yang kita butuhkan. Terkadang ia hadir melalui jalan yang sederhana, terkadang melalui orang-orang di sekitar kita, dan seringkali melalui cara yang tidak pernah kita duga sebelumnya.
Kehamilan bukanlah awal dari kesempitan, melainkan bisa menjadi awal dari kelapangan yang Allah siapkan. Seorang ibu tidak sedang berjalan sendirian; ia sedang ditemani oleh janji-janji Allah yang pasti. Maka di tengah segala keterbatasan, tetaplah melangkah dengan hati yang yakin. Karena yang sedang tumbuh dalam rahimmu bukan hanya seorang anak—tetapi juga harapan, keberkahan, dan rezeki yang telah Allah siapkan sejak lama.
Begitulah logika iman, rizki bukan sekedar tentang banyaknya tapi keberkahannya.
Biar sedikit asal berkah maka ia akan melapangkan hatimu.
Jika itu banyak dan melimpah maka ia akan meluaskan syukurmu.
Semoga Allah limpahi kita rizki yang lapang lagi berkah.
Ummu Sa'id
Comments
Post a Comment