Akhir para durjana
"byaaaar!!!"
Ususnya hancur tercerai-berai namun sesaat setelah itu dikumpulkan kembali 'daging' yang berserak untuk menerima murka Dzat yang dulu didurhakainya..
Air matanya sudah kering, tangan-kaki seolah menjadi penghianat bagi diri.. Setelah 50.000 tahun menanti ditanah lapang tak bertepi, haus dan lapar sudah pasti tak tertahankan lagi.. Ingin rasanya pergi atau sebagaimana orang-orang kafir berkata "alangkah baiknya seandainya dahulu aku jadi tanah" (Qs. Annaba:40)
Menanti ketidakpastian, merutuki amal yang tak tau akankah berarti dan ia hanya dapat tertunduk hina.
"Laki-laki itu!!"
Suaranya tercekat..
"mungkinkah ia? Yang seruannya hanya ku dengar lalu ku abaikan??" (Wajahnya semakin pias, tubuhnya kaku-pilu; Hal yang disadari kini bahwa fisiknya tak lagi berwujud sebagaimana dulu ia didunia)
Menunggu!!
Ditengah lautan manusia, dibawah terik matahari yang menyengat-membakar; semua menunggu.. sidang pertanggungjawaban, semua bersaksi dan takkan ada yg luput meski amal sebesar biji sawi..
Kakinya bergetar hebat, rasa takut begitu menyelimuti.. "Bagaimana ini??!!!"
Akhirnya..
Ia tak selamat..
Rapor itu diberikan dengan tangan kiri sang utusan, tatapannya sangar dan berperilaku kasar..
Tubuh itu tak berdaya..
Lapar-haus yang mendera, jilatan api neraka yang membakar saat ia harus merangkak melewati jembatan tanpa cahaya..
Disinilah ia berada..
Didalam api yang panas membakar..
Saat ia memasukinya, tersuguh minuman dari mata air yang memuncak panasnya lagi mendidih..
Dahaga yang sudah tak tertahankan membuatnya mau tidak mau meneguk air yang tersedia, hancurlah bagian-bagian tubuhnya lalu dikumpulkan oleh Rabb yang dulu ia abaikan perintahnya..
Tak berhenti disana..
Sebagaimana Allah sandingkan minuman dan makanan didunia maka begitulah yang Allah berikan ditempat pembalasanNya..
"Tidak ada makanan bagi mereka kecuali dari pohon yang berduri" (Qs. Al-Ghaasyiyah: 6)
Ialah pohon berduri lagi beracun setelah mengering. Sebagaimana dahaga yang mematikan begitupun kelaparan yang dirasakan dan lagi-lagi tak ada pilihan..
Makanan itu masuk kemulut mereka lalu mencabik bagian-bagian tubuh yang dilalui olehnya hingga rusak..
Oh dunia!! Dimanakah kau berada?? Dimana harta dan tahta yang mati-matian dikejar tak kenal masa? Dimana anak-istri dan kerabat yang menawarkan pertolongan? Dimana kesenangan yang membuat diri mengabaikan seruan pemilik alam?!
--
Setelah itu nak..
Setelah semua mendapat balasan atas apa yang diperbuat dan orang-orang beriman memasuki surga karna Rahmat dari Tuhannya..
Allah datangkan kematian serupa hewan sembelihan, lalu disembelihlah ia..
Matinya kematian adalah pertanda bahwa pembalasan yang diterima saat itu adalah keabadian, kekal..
.
Terbayangkah nak? Bagaimana jika kita ada diposisi orang yang terhina lagi dimurkai? Na'udzubillahi mindzalik.. Dunia menjadi sangat tak berharga..
Maka, pandanglah ia hari ini sebagaimana kelak engkau memandangnya diakhirat.. agar hatimu tak terpaut; agar visimu mengangkasa; agar hanya Allah muara segala amal dan pinta..
Comments
Post a Comment