Riak-riak asa

Riak-riak asa
(Ketika lelah membelenggu raga, ada rasa syukur yang harus terjaga)

"Ummi.. terimakasih ya"
Suara yang tiba-tiba muncul sesaat setelah kusudahi doa..

Matanya berbinar, senyumnya mengembang.
Ia mendekat sambil melanjutkan kalimatnya yg terpotong..

"Makasih ya umi sudah buatkan aa makanan, aa suka.." 

Hatiku menghangat..

"Alhamdulillah"
Aku tersenyum sebagai tanda terima 'cintanya'
--
Pada lelah yang mendera; atas segala peluh dari rutinitas yg tak pernah usai..

Pada proses pendidikan kepada ananda; yang tak selalu kita temui "kabar gembira"..

Pada idealisme target kebaikan yang sering membuat kita lupa tentang ungkapan sederhana tanda iman bertunas didada..

Pada itu harusnya kita sadar bahwa yang harus terus diupaya adalah rasa syukur kepada Allah..

Kacamata syukur yg akan membawa kita melampaui "ruang-ruang rasa" keluh dan resah..

Kacamata syukur yang akan mengundang nikmat Allah lainnya; "mengundang" agar Ia hadirkan barakah dalam rumah tangga kita, dalam keshalihan putra-putri kita..

Kacamata syukur yg akan jadi cermin paling bening saat riak-riak asa itu hadir..

Kacamata syukur yg akan menguatkan ketika gelombang menerjang saat layar kuat terkembang ditengah lautan..
--
Syukur bukan perkara sederhana bagi seorang wanita karena ia terfitrah dengan mudah melupakan kebaikan saat emosinya meluap tak tertahan..

Mari terus berusaha, meminta pada Allah yg punya kendali hati ini.. agar terus terjaga rasa syukur didada untuk mendampingi anak-anak dan ayahnya hingga kabar gembira Allah sampaikan "selamat datang wahai orang-orang yg bersabar"
--
Rasa syukurku terhentak saat ustazah Poppy menyampaikan kajian beberapa hari lalu..

Jazaakunnallah khyraan..
Semoga kebaikan Allah terlimpah pada beliau dan keluarganya serta kuttab al-fatih gresik juga segenap panita.. 

Comments

Popular posts from this blog

#JKKB "Umi.. Apa cantik itu harus putih?"

(Agar tidak) Hilang arah

Teguh (?)