Ibu dan mahar untuk bidadari surga anaknya (Bagian 1)

Aduhai anakku sayang, sungguh bergetar hati ummi membacanya nak.. Tak kuasa membayangkan bahwa itu adalah aku dan kamu.. Mungkin ini adalah karena iman ibumu yang masih bertalu dengan kenikmatan dunia..
Kisah ini nak, semoga jadi pemantik bara amal keshalihan; semoga menjadi pemberhentian pada angan terhadap kehidupan fana yang tak seberapa..

Dengarkanlah nak, dengarkan ummi bertutur kisah..

Di Basrah, saat musuh melewati batas sebuah negri Islam; Abu Ubaid (seorang khatib) membakar semangat jihad dengan mengabarkan kenikmatan dunia dan sifat bidadari didalamnya..

Ia adalah cerahnya fajar yg tenang namun riang
Diciptakan dari setiap sudut yang istimewa
Apakah kau tau, sang peminang mendengarkannya,
Duhai kekasih, tidaklah aku lebih suka kepada selainnya,
Jangan sekali-kali kau menyerupai orang yang bersungguh-sungguh mendapatkannya
Melamar diriku namun penuh kelalaian. Sehingga orang-orang akan mengejeknya.
Perbaikilah (dirimu). Duhai andai ditolak darinya. Ketika piala itu diterbangkan bergilir lalu berakhir ketika hajatnya usai. Setelah lari tak terkendali. Sesungguhnya orang yg melamarku adalah orang yang berusaha terus menerus.

Setelah syair selesai dilantunkan ada seorang perempuan renta yang keluar dari kerumunan menemui Abu Ubaid.

Ummu Ibrahim Al-Bashriyah namanya, ia berkata "wahai Abu Ubaid, apakah engkau mengenal putraku Ibrahim?" Ia telah dilamar oleh petinggi Bashrah untuk putrinya tapi saya tolak. Namun sekarang aku tertarik dengan bidadari yg kau sebut tadi. Aku rela jika bidadari itu menjadi pengantin bagi anakku. Maka ulangilah sifat-sifat yg kau ucapkan tadi agar ia tertarik padanya."

Abu ubaid pun kembali bertutur.

Jika rembulan telah sempurna dimalam hari, kau lihat ia memiliki keistimewaan yg jelas dari rembulan itu
Senyumnya menyibak gigi yg indah, laksana mutiara yg terpendam dikedalaman samudera
Andai alas kaki yg dipakai menginjak kerikil, niscaya akan tumbuh bunga daripadanya.

Mendengar itu, ummu Ibrahim beranjak dari duduknya lalu berkata "Wahai abu ubaid, demi Allah aku telah Ridha bidadari itu sebagai pendamping ibrahim. Apakah engkau mau menikahkan mereka sekarang juga dengan mengambil dariku sepuluh ribu dinar sebagai maharnya? Semoga Allah menjadikannya pahlawan yang mati syahid, sehingga mampu memberi syafaat bagiku dan ayahnya dihari kiamat"

Abdul Wahid berkata, "Baiklah, aku bersedia. Semoga kalian mendapatkan keberuntungan yg besar"

Setelah itu pun sang ibu berteriak memanggil-manggil anaknya lalu seorang pemuda tampan keluar dari kerumunan manusia menyambut panggilan sang ibu "baiklah ibu.. baiklah ibu.."

"Wahai putraku, apakah engkau rela dengan bidadari yang disebutkan tadi untuk menjadi istrimu, dengan jantungmu yg kau korbankan dijalan Allah sebagai maharnya?" Tanya sang ibu

"Aku bersedia ibu"

Setelah itu wanita tersebut berlari menuju rumahnya untuk mengambil 'mahar' yang dijanjikan. Sesaat setelah uang tersebut ada ditangannya ia meletakkan dan menengadahkan kelangit sambil berdoa "Ya Allah, saksikanlah.. bahwa aku menikahkan anakku dengan bidadari. Sebagai maharnya, ia akan mengorbankan jantungnya dalam perang dijalanMu. Maka terimalah ini wahai Dzat Yang Maha Pengasih". 

Comments

Popular posts from this blog

#JKKB "Umi.. Apa cantik itu harus putih?"

(Agar tidak) Hilang arah

Teguh (?)