ibu, kuatlah!
"Perjalanan hijrah Rasulullah adalah milik keluarga Abu Bakar Ra" begitulah kalimat yang dikutip dari kajian 'ibu, kuatlah!' pada sesi pertama pada waktu lalu..
Iman itu seolah mengakar dan mendarah daging; mengalir dari sulbi sang ayah hingga putra dan putrinya. Padahal, oh.. duhai iman tak dapat diwarisi oleh ayah yg bertakwa.
Mari kita kembali menyusuri lembar-lembar sejarah yg rimanya tak pernah habis disyarah zaman, selalu saja ada hikmah yg dapat direguk dari samudranya.
Asma binti Abu Bakar, namanya memang tak semasyhur saudarinya tapi kokoh jiwa dan imannya mampu menggetarkan singgasana musuh yg tak segan menguliti putra tercintanya..
"Wahai ibu, orang-orang tak lagi setia kepadaku. Bahkan anak dan istriku juga tak mau membelaku. Tidak ada yang mau membersamaiku kecuali mereka yang hanya mampu bertahan sesaat kedepan sedangkan musuh bersedia memberikan apa saja yg ku mau.. lantas bagaimana menurutmu?" Ujar Abdullah bin Zubair
Ibu mana yg tak sesak mendengarnya, tubuh yg dulu ditimang penuh cinta kini sedang dilema antara kebenaran yg akan ditebus oleh nyawa atau kefasikan yg akan membuatnya bergelimang dunia..
"Kalau engkau merasa berada dijalan kebenaran dan menyeru kepadanya; maka teruskan perjuanganmu. .... Jika engkau hanya menghendaki dunia maka engkaulah sejelek-jeleknya manusia ...."
Ucapannya teguh, membuat ananda semakin yakin atas sikap yang diambilnya..
Lalu sang bunda beranjak, mengantarkan kepergiannya; membersamainya dalam doa..
--
Begitu Abdullah menjemput kesyahid-annya..
Hal yg tak jauh berbeda dengan saudaranya, Urwah bin Zubair..
Pernahkah kau dengar kisah tentang seorang pemuda yg menahan sakitnya amputasi kaki tanpa obat "kebal" ataupun khamar guna mengurangi sakit yg menyiksa dengan shalatnya..
Setelah "prosesi pemotongan kaki" selesai, terkabarkan bahwa salah satu anaknya wafat..
Bukan penyesalan yg terlontar tapi rasa syukur karena masih ada nikmat yg ia rasakan..
--
Lihatlah!!
Keduanya..
Lahir dari rahim wanita yg sama.. tidakkah kita curiga bahwa wanita itu istimewa?
Keteguhan iman, kekokohan jiwa mengalir dan mengakar pada jiwa anak-anaknya..
Keikhlasannya membersamai dakwah nabi, kerelaannya taat pada suami bukti bahwa ia layak mendapatkan "pujian" dari Allah berupa keshalihan anak-anaknya..
--
Maka ibu, kuatlah!!
Pupuklah rasa syukur dirumpun taat..
Mensyukuri atas semua yg terjadi, syukuri dan taat pada syari'atNya. Yakinlah bahwa apa yg datang dari Allah adalah kebaikan..
Sadar diri..
Sadar bahwa kita tak pantas menyandarkan keshalihan dan amal kita semata karena semua kebaikan yg hadir dalam keluarga kita tak luput dari campur tanganNya..
Berdoa..
Doakan..
Yaa...
Doa adalah senjata terbaik..
Ibu.. getarkan ArsyNya dengan lirih dan linangan air matamu..
Semoga Allah bimbing kita dalam mendidik dan membersamai generasi umat ini..
Comments
Post a Comment