Ber(teman) jeda
Senja semakin menua diufuk cakrawala.
"Kita memang butuh jeda!"
Suara itu tiba-tiba hadir lalu beresonansi kesetiap bilik pikir.
Jeda
Riaknya kadang menyakitkan, derunya membunuh keceriaan dan membangkitkan sederet pertanyaan.
Sebagaimana dulu saat wahyu terjeda, pemuka Quraisy mencerca "Muhammad telah ditinggalkan Tuhannya"
Jeda
Aromanya seperti nyanyain sukma kematian, hampa.
Sebagaimana masa ketiadaan utusan sebelum nadi itu berdenyut kembali pada malam ganjil Ramadhan.
Namun, apakah ia selalu menyisakan sesak?.
Mari renungi baik-baik.
Jeda
Rengkuhan cinta Allah pada hamba-Nya saat Al-Qur'an diturunkan; berangsur-angsur.
Agar ia mampu merasuk-menyatu pada sekerat daging bernama hati lalu menafsirkannya dalam laku amal sehari-hari
Jeda
Selayaknya rangkai kata dalam cerita, ia ada agar dapat memberi makna. Selayaknya itu pula pada setiap episode kehidupan kita.
Perlu jeda dan berteman dengannya, tinggallah kita melihat dengan sudut pandang apa.
Comments
Post a Comment