Pembuktian wahyu

Pembuktian wahyu bukan berarti tak percaya tapi agar iman yang ada semakin menyala. Pembuktian wahyu adalah upaya agar Qur'an tak sekedar bacaan, agar ia menjadi pedoman. 

Ramadhan 1440H adalah kali kedua Allah izinkan aku merasakan kepayahan, mengandung dan menyusui dalam satu waktu. Kondisi yang membuatku seolah Allah sedang bicara dengan lemah lembut.

Luqman 31:14

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ 

Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.

Pada ayat diatas Allah perintahkan agar seorang anak bersyukur padaNya dan kedua orangtuanya. Penggunaan kata 'dan' merupakan penanda kesetaraan, kebaikan Allah yang seluas langit dan bumi disetarakan dengan kepayahan keduaorangtua (menariknya lagi, pengorbanan yang dijelaskan adalah pengorbanan seorang ibu).
Betapa aku merasa sangat diistimewakan kala itu. Ditambah dengan hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh bunda 'Aisyah bahwa balasan pahala tergantung dari kepayahannya dalam berusaha.

Maka, saat semua semakin berat. Ayat diataslah penghiburnya.

Setelah 9 bulan berlalu, sampailah pada masa melahirkan. Prosesi pertaruhan nyawa, jika diibaratkan maka satu kaki berada di dunia dan kaki lainnya sudah menapak ke alam lainnya.

Kami sudah bersepakat untuk melahirkan dengan cara sayyidah Maryam melahirkan, bukan sekedar ikut-ikutan trend yang berkembang tapi kami ingin menjejaki wahyu dan menjadikannya panduan.

 "Jika Allah sudah tetapkan pasti ada kebaikan".

Singkat cerita, qodarullah harus bermalam di rumah bidan selama dua hari. Pada hari kedua dini hari, aku semakin merasakan kontraksi dengan durasi lebih dekat.

Pyaar!

Ketuban pecah, aku menghela nafas sambil membangunkan suami dan bidan yang berjaga. 
'ini waktunya' pikirku
"Baru pembukaan 5"  ucap Bu bidan mengucapkan kalimat yang sama dengan kalimat 4 jam lalu saat terakhir pengecekan.

Aku semakin payah, segala lelah telah memuncak. Rasanya ingin menangis menyudahi hingga akhirnya suami memberi ide "mau nyoba yang persalinan Maryam?" dan aku pun mengangguk mengiyakan.

Aku turun dari ranjang dan mulai melakukan gerakan, pada gerakan kedua rasa mules semakin menjadi. Bidan bilang untuk tunggu sebentar karena harus dicek pembukaan tapi rasanya sudah tidak tahan. Dalam 2 kali mengejan, suara bayi yang ditunggu semalaman akhirnya terdengar.

Ada takjub tak tergambarkan.
Rabbi... Duhai Rabbi..
Betapa ayatMu mampu membuatku berlinang penuh kesyukuran.

"padahal tadi baru pembukaan 5 dan jaraknya hanya 15 menit dari pemeriksaan"
Masyaa Allah..
Aku tak henti-hentinya ucap syukur. Bagaimana tidak, aku menghabiskan waktu lebih dari 24 jam untuk merasakan nikmatnya 5 pembukaan dan Allah sempurnakan dalam waktu kurang dari setengah jam.
-
Betapa aku merasa, rengkuhan itu sangat hangat mendekap.

Comments

Popular posts from this blog

#JKKB "Umi.. Apa cantik itu harus putih?"

(Agar tidak) Hilang arah

Teguh (?)