Menyulam malam

Malam kesekian ramadhan, perenungan ku tentang perempuan semakin dalam. Bermula dari perintahNya dalam al-ahzab 33 dan berlanjut pada ayat-ayat di surat lainnya. 
Aku seperti dimanja dalam kalam-Nya, pada setiap frasa ada dekap yang semakin erat, seolah Ia ingin berbisik "inilah bukti cintaKu".

Perempuan dan (masih tentang) malam
Ialah malam, pekat; waktu yang banyak membuat orang tercekat tapi ia pula yang membuat orang terpikat.
Pada pendar purnama, kerlip gemintang hingga pemandangan yang menenangkan ditemani derik binatang bersahutan.

Malam, ia menjadi niscaya setelah siang berlalu, "ah lumrah" kata kebanyakan orang. Tak banyak yang menyadari lalu berdecak kagum kemudian berujar "bagaimana jadinya jika Allah tak sampaikan malam untuk kita?". Tak banyak!
Sebagaimana peran kita, sebagai istri; sebagai ibu.
Sebagaimana segala peluh yang tak juga usai, sebagai istri; sebagai ibu.
Semua memandang 'lumrah', namun apa jadinya jika ia tiada?

Tapi, memanglah begitu sunatullah peran kita. Tak perlu kita bersikeras menjadi matahari yang memiliki sinar sendiri hingga mampu menyinari, tak perlu! Jika fitrah kita tak disitu, maka hanya akan menyakiti diri.
Biarlah kita luruhkan peluh dalam senyap, sebagaimana malam meluruhkan semesta dari bising di siang hari.
Sebagaimana malam dengan pekat angkasanya mampu membuat purnama sempurna memantulkan sinar dan bintang dapat bersinar menghiasi, sebagai itulah kita memaknai peran istri dan ibu. Biarlah suami dan anak-anak kita sebagai mahakarya bagi semesta.

Perempuan dan pakaian

Al-Baqarah 2:187

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ ٱلصِّيَامِ ٱلرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَآئِكُمْۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّۗ عَلِمَ ٱللَّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتَانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْۖ فَٱلْـَٰٔنَ بَٰشِرُوهُنَّ وَٱبْتَغُوا۟ مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمْۚ وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلْخَيْطُ ٱلْأَبْيَضُ مِنَ ٱلْخَيْطِ ٱلْأَسْوَدِ مِنَ ٱلْفَجْرِۖ ثُمَّ أَتِمُّوا۟ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيْلِۚ وَلَا تُبَٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَٰكِفُونَ فِى ٱلْمَسَٰجِدِۗ تِلْكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَاۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ ءَايَٰتِهِۦ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ 

Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Te-tapi jangan kamu campuri mereka, ketika kamu beriktikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, agar mereka bertakwa.

Pakaian, nikmat Allah yang diberikan kepada kita. Al-Qur'an menjelaskan bahwa fungsinya adalah sebagai penutup aurat dan perhiasan.

Selayaknya ia sebagai penutup aurat maka harusnya selayak itulah kita bagi suami kita, penutup bagi hal-hal yang tak boleh terlihat 
Selayaknya ia sebagai perhiasan maka selayaknya itulah kita bagi suami kita, menyenangkan dalam pandangan dan pendengarannya.

Comments

Popular posts from this blog

#JKKB "Umi.. Apa cantik itu harus putih?"

(Agar tidak) Hilang arah

Teguh (?)