Rambu cemburu
Rinai hujan dimalam kedelapan belas ramadhan membawa pikiranku mengembara ke masa 1500 tahun lalu.
Di sebuah lembah nan barokah, tanah yang mulia karena seuntai doa yang pernah dilayangkan kekasihNya.
Disederet bilik-bilik cinta, wajah-wajah mulia yang khusyu berdoa pada Rabbnya, hati yang bersih dari urusan dunia.
Malam membuat mereka tentram namun ada kerinduan yang mencabik, pada kekasih hati yang lebih dulu pergi.
Pada sunyi yang menyelimuti kota nabi, sekelebat terputar memori tentang kisah cinta beberapa diantara mereka. Tentang cemburu yang membuatnya turun wahyu.
Mereka, ibunda-ibunda kita; ummahatul mukminin.
Terkisah, suatu hari Rasulullah shalallahu alayhi wasallam diberi madu oleh Zainab binti jahsy. Mendengar kabar itu, Aisyah binti abu bakar merasa cemburu dan menemui putri Umar bin Khattab yang tak lain adalah 'madu'nya. Mereka saling bersepakat untuk menghindari Rasulullah dan mengatakan bahwa mulutnya beraroma getah pohon (fyi: Rasulullah selalu bersiwak dan mencium istrinya setiap kali memasuki rumah).
Ketika Rasulullah menjumpai sayyidah Aisyah maupun sayyidah Hafshah, beliau merasa bersalah dan berjanji untuk tidak akan meminum madu lagi.
Pernyataan yang mendapat teguran langsung dari Allah.
At-Tahrim 66:1
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَآ أَحَلَّ ٱللَّهُ لَكَۖ تَبْتَغِى مَرْضَاتَ أَزْوَٰجِكَۚ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu? Engkau ingin menyenangkan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
Ialah cemburu; ekspresi cinta yang menggebu, ingin agar diri menjadi nomor satu.
Ialah cemburu; pada suami yang begitu lembut mencintai, ingin agar ia yang selalu dihati.
Cemburu adalah fitrah cinta, sebagaimana sayyidah hawa yang cemburu kepada suaminya ketika pulang terlambat.
"Ada keperluan yang harus aku selesaikan. Bukankah tidak ada hawa selainmu di dunia?"
Kata-kata itu memang benar adanya, bahwa tidak ada hawa selainnya tapi sederet kalimat tersebut mengusik hatinya, memunculkan api cemburu yang hadir entah dari mana.
Ya, itulah cemburu dan fitrahnya. Tak ada larangan dalam merasainya tapi ada rambu yang Allah tetapkan.
Rambunya ada pada syari'at.
Cemburulah.. selama itu tidak berlebihan, selama itu tidak 'membahayakan'.
Cemburulah.. karena itu diperlukan dalam membumbui cinta agar memiliki ragam rasa.
Cemburulah.. semoga itu menguatkan ikatan hati.
Comments
Post a Comment