istri setenang malam (part 2)

Jika suami tak dapatkan sakinahnya didalam rumah maka ia akan mencarinya di luar rumah, saat itu terjadi akan sangat mungkin harapan agar dapat merasakan surga sebelum surga di rumah kita hanya menjadi dongeng pengantar tidur.

Jika suami tak dapatkan sakinahnya didalam rumah maka istrinya bukan lagi yang teristimewa, jiwanya gulana hingga akan jadi potensi kehampaan romantisme; karamnya bahtera.

Oleh karena itu, merawat cinta dalam pelayarannya masih sangat butuh ilmu; agar saat gelombang datang yang hadir adalah dekap erat, agar saat riak tenang yang hadir adalah sentuhan lembut pengokoh cinta dan agar cinta itu melekat menjadi kenangan indah meski salahsatunya telah 'berpulang'. Sebagaimana Muhammad Rasulullah mengenang kekasihnya hingga membuat 'madu' tercintanya cemburu berulangkali.

Litaskunuu dalam Al-Qur'an
Kata litaskunuu terdapat dalam 5 ayat di Al-Qur'an yaitu pada QS Yunus:67, Al-Qasas: 72-73, Ar-Rum:21 dan Ghafir:61.

Pada 5 ayat tersebut (arti litaskunuu) 4 diantaranya memiliki arti beristirahat dan disandingkan dengan kata malam sedangkan dalam QS. Ar.rum:21 artinya adalah merasa tenteram dan disandingkan dengan pasangan (istri).

Menariknya lagi, surat Ar.Rum merupakan surat yang terbanyak mengandung ungkapan "Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya". Hal tersebut memberi petunjuk bahwa ayat-ayat Allah itu sangat jelas dan kita diminta untuk memikirkannya agar bertambah lah keimanan kita.

".... Dia menjadikan diantaramu kasih dan sayang ...." (QS 30:21)

Pernahkah kita sesekali (atau seringkali) merasa begitu percaya diri saat melakukan kebaikan untuk suami dan yakin bahwa hal itu akan menambah kasih dan sayangnya kepada kita? Dan pernahkah hadir kekecewaan jika ternyata apa yang telah kita lakukan hanya bertepuk sebelah tangan?
Jika jawabnya 'pernah', maka mari kita insyafi bersama. 

Kekeliruan tentang rasa kasih dan sayang yang sering kita sandarkan pada usaha pribadi ternyata dijawab langsung oleh Allah diayat ini. Ayat yang mengajak kita merenungi lebih dalam, meyakini sepenuh hati bahwa hanya Allah yang kuasa menambah atau mengurangi rasa. Keyakinan yang penuh sebagaimana keyakinan para sahabat dengan wahyu yang dikabarkan Rasulullah (Qs 30:1) tentang kemenangan  bangsa Romawi atas Persia sebelum kejadian itu terjadi. 

Jika keyakinan terhadap wahyu itu telah ada, pertanyaan yang selanjutnya terlontar adalah "bagaimana kalam-Nya menuntun agar rasa kasih sayang diantara kita dan pasangan bisa terus hadir?"

Selayaknya malam

'agar kamu merasa tenteram' (litaskunuu) pada 4 ayat lainnya merupakan kalimat yang menjelaskan tentang malam.

Keterkaitan yang indah, Allah ingin menyampaikan agar kita dapat belajar dari malam yang menentramkan.

Perhatikan ayat berikut:
Yunus 10:67

هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلَّيْلَ لِتَسْكُنُوا۟ فِيهِ وَٱلنَّهَارَ مُبْصِرًاۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَسْمَعُونَ 

Dialah yang menjadikan malam bagimu agar kamu beristirahat padanya dan menjadikan siang terang benderang. Sungguh, yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar.

Adakah kau merasa ada yang aneh?
.
.

".... Sungguh, yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar."

Seksamailah!
Bukankah yang dapat mengindra siang dan malam adalah mata? Tapi kenapa Allah menggunakan kata mendengar dalam kalimat penegasan akhir kalimatnya?

Let's see..
Ini renungan tadabbur ku, rumah adalah tempat paling banyak digunakan untuk segala aktivitas dimalam hari sedangkan indra yang paling peka menangkap perbedaan antara siang dan malam saat kita berada didalamnya adalah telinga karena mata kita dibatasi oleh dinding-dinding rumah.
Telinga kita seolah mampu menembus tebalnya pembatas antara kita dan dunia diluar dengan suara. Keheningan pekat atau suara jangkrik yang bersahutan satu sama lain.

Ialah malam dan penegasan Allah "bagi orang-orang yang mendengar" dapat menjadi panduan selayaknya itulah istri pada suami.
Agar ia dapat menenangkan "keriuhan" penat suami disiang hari, maka jangan lagi bisingkan pendengaran suami dengan hal-hal yang tidak ia sukai.
Agar ia dapat menenangkan "keriuhan" penat suami disiang hari, maka gunakanlah pendengaran yang dibersamai oleh rasa ketika membasuh peluhnya. Dengarkan ia lalu berkatalah yang baik karena (dalam kajian ust. Budi dan dr. Zaidul Akbar "wa huwa yasyfii") dikatakan bahwa setiap Indra kita memiliki potensi untuk meningkatkan hormon endorfin (hormon ketenangan/kebahagiaan).
Agar ia dapat menenangkan "keriuhan" penat suami disiang hari, maka 'redupkanlah' nada suaramu dihadapannya; sebagaimana fase datangnya malam setelah siang.

Comments

Popular posts from this blog

#JKKB "Umi.. Apa cantik itu harus putih?"

(Agar tidak) Hilang arah

Teguh (?)