ibu, pulanglah! sebelum semuanya terlambat

Malam semakin larut, dua balita yang sejak pagi ku bersamai kini telah terlelap dalam dekap.

Melelahkan memang, ya! Melelahkan.
Membersamai dan mendidik generasi memang melelahkan sama melelahkannya dengan upaya orang-orang yang ingin merusaknya namun yang membedakan adalah kita memiliki harapan disisi Allah.

Sebagai pelipur lelah, penyeka peluh dan penguat asa. Ku putar lagi kajian ustadz Budi Ashari tentang ibu.
--
Suatu hari, ada seorang laki-laki yang ingin mengadukan kepada khalifah Umar r.a tentang istrinya yang begitu cerewet.

Bergegas ia menuju rumah sang pemimpin namun sesampainya ia di depan pintu, terdengar suara istri Umar yang sedang bicara panjang lebar kepadanya.
Mendengar hal itu, laki-laki tersebut memutuskan untuk kembali pulang. Kepergiannya terlihat oleh Umar dan dipanggilah ia lalu ditanyakan urusannya.

Mendengar penjelasan tersebut Umar berkata, kau tau mengapa saya sabar terhadap istri saya? Ialah karena dia memasakkan makanan saya, mengadoni roti saya, dialah yang mencuci pakaian saya dan dialah yang menyusui anak-anak saya.

Jika kita perhatikan, maka pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan 3 ranah; sumur, dapur dan kasur. 

Bukankah ini menjadi isyarat bahwa ketiga hal ini merupakan sebuah kemuliaan, tiga hal yang membuat Umar sangat sabar dengan segala kekurangan sang istri. 
Curhatan laki-laki tersebut ditutup oleh nasihat Umar "sabarlah saudaraku karena sesungguhnya kemarahannya hanya sesaat kemudian akan hilang".

Para bunda, sebenarnya yang harus kita tadabburi dari kalimat tersebut adalah firman Allah SWT. Namun melihat ayat ini kita khawatir pada diri sendiri karena ayat ini adalah ayat yang sering kita tolak.

Al-Ahzab 33:33

وَقَرْنَ فِى بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ ٱلْأُولَىٰۖ وَأَقِمْنَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتِينَ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَطِعْنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجْسَ أَهْلَ ٱلْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا 

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu, dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu
Ayat ini menegaskan bahwa wanita tempatnya memang di rumah.

Peradaban hari ini mencoba menggiring perempuan untuk keluar dari rumah-rumah mereka dengan segala alasannya. 

"42% wanita di Indonesia lebih memilih bekerja dibandingkan harus tinggal di rumah, meskipun tidak memiliki masalah keuangan" survey Accenture

Kebebasan berekspresi sampai hasrat ingin disetarakan dengan laki-laki merupakan salah satu alasannya. Padahal, Al-Qur'an jelas menerangkan bahwa laki-laki berbeda dengan perempuan. Allah paling tau tentang fitrah tersebut dan karena itulah Allah menempatkan para wanita di rumah mereka, tempat pertanggungjawaban terbesarnya.

Maka, bukankah sudah saatnya kita dan keluarga kita mulai merenung. 

"Apakah ini salah satu yang menyebabkan keluarga kita bermasalah?"

"Apakah ini yang menjadi faktor anak-anak kita tidak istimewa?"

Maka, ibu pulanglah!
Suamimu, ingin mereguk ditelaga cintamu.

Ibu, pulanglah!
Diluar sana sangat tidak ramah untuk kelembutanmu.

Ibu, pulanglah!
Istanamu menunggu sentuhan surgawimu.

Ibu, pulanglah!
Calon orang besar sudah duduk begitu manisnya, siap untuk belajar di madrasah mu.

Ibu, pulanglah!
Pemimpin masa depan umat ini, dia hanya ingin merasakan tatapan teduh pandanganmu 

Ibu, pulanglah!
Karena Allah yang memerintahkan para ibu untuk pulang.

Ibu, pulanglah! 
Sebelum semuanya terlambat.

Comments

Popular posts from this blog

#JKKB "Umi.. Apa cantik itu harus putih?"

(Agar tidak) Hilang arah

Teguh (?)