Wanita; ayat Allah dimuka bumi (part 1)

"bibitnya masyarakat ada pada rumah; bibitnya rumah ada pada wanitanya" sepenggal kalimat yang membuatku semakin menyeksamai kajian yang ku putar untuk mengisi waktu senggang disiang Ramadhan, sesaat setelah setumpuk pekerjaan rumah beres dan anak-anak terlelap.

Ialah wanita; ayat Allah dimuka bumi, derajatnya tinggi hingga Rasulullah menyampaikan 3x dalam bakti "ibumu... Ibumu... Ibumu... Lalu ayahmu".

Ialah wanita; makhluk lemah yang Allah amanahkan kepayahan. Bacalah banyak penjelasan, kenapa persaksian seorang wanita hanya setara dengan setengah pria. Bacalah penjelasan tentang betapa rapuhnya ia sehingga diumpamakan gelas-gelas kaca. Bacalah juga tentang bagaimana al-mushtofa menganjurkan dalam berlaku kepada tulang rusuk yang bengkok.
Wanita dengan segala kelemahan tapi Allah amanahkan kepayahan padanya. Allah sampaikan tentang peran yang tak bisa tergantikan dan kesemuanya adalah kepayahan. Hamil, melahirkan dan menyusui. Semua adalah amal kepayahan tapi dengan itulah derajatnya 3x lebih tinggi dari sang ayah.

Kelemahan itu terbalut indah dengan keutamaannya; ialah pendidik pertama ananda, ialah penentu kebaikan masyarakatnya, ialah ujung tombak kebaikkan umat. Maka, tak heran bahwa Allah begitu banyak berbicara tentang wanita dalam kalamNya.
Mulai dari tuntunan tentang diri dalam berhias sampai peran-peran terbesar yang harusnya menjadi pedoman.

Wanita dan feminisme

Gaung femisme menggema menyesaki ruang-ruang dengar wanita di dunia, ingin kesetaraan katanya. Lalu aku teringat pada pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang adik dalam diskusi online;

"Kak, menurut kakak gimana tentang feminisme dalam Islam?"
Aku terdiam, memutar informasi tentang gerakan yang lahir karena kekecewaan tentang sikap masyarakat setempat terhadap wanita".
Aku menarik nafas agak berat.
"Pandanganku, ada 2 hal yang bertentangan dan tidak pas jika ia disandingkan. Islam itu ajaran tinggi dan sempurna (karena ia terpandu Wahyu) sedangkan feminisme adalah ajaran yang dibuat manusia. Bagaimana mungkin kita mencari sesuatu yang cacat pada hal yang sempurna"

Maka, jika ia adalah seorang muslimah cukuplah Islam sebagai petunjuk dalam beramal.

Wanita dan perannya dalam Al-Qur'an

Betapa Allah begitu lembut merengkuh wanita, menjaganya dengan perintah untuk berdiam diri di rumahnya. Jika pun ada uzur, maka syari'at memandu dalam pelaksanaan.

Sayangnya, kita yang tak acuh; sekedar menjadikan Al-Qur'an sebagai wirid harian, padahal ia adalah mukjizat sebagaimana mukjizat tongkat nabi Musa yg mampu mematahkan sihir Fir'aun. 

Oleh karenanya, mari kita mulai dari sini; dari diri kita sebagai wanita. Mari kita selami lebih dalam, bagaimana Allah membersamai kita dengan ayatNya.

Saat seorang wanita belum menikah, maka ia mampu menjadi appun yang dikehendaki, terlebih jika ia adalah seorang aktivis di kampus atau lingkungannya. Setelah ia memasuki bahtera pernikahan maka amanahnya bertambah, tak sedikit yang mencoba mengambil peran-peran lebih. Ia harus jadi istri, ibu, pekerja profesional, pekerja sosial. Masalahkah? Dulu, buatku itu adalah sesuatu yang menakjubkan karena ia punya banyak ladang kebaikkan tapi ternyata aku keliru.

Bersambung...

Comments

Popular posts from this blog

#JKKB "Umi.. Apa cantik itu harus putih?"

(Agar tidak) Hilang arah

Teguh (?)